Remaja Nikah Muda, berujung HIV

Sebut saja ia Ni Luh. HIV dan AIDS ( Human immuno deficiency Virus dan Aquire Immuno deficiency Sindrome) sudah tak asing lagi ditelinga, hati, dan pikirannya. Semenjak 2004 tahun silam setelah ia tahu status HIVnya. Sama halnya dengan kebanyakan orang, masa penyangkalan itu terjadi padanya. Tapi, Ni Luh bangkit dari keterpurukan.
Ni Luh adalah perempuan yang kini baru berusia 24 tahun. Kulitnya hitam, rambutnya ikal sebahu dan tak pernah rapi. Ni Luh sosok periang dan mudah bergaul dengan orang yang baru ia kenal. Ni Luh, adalah nama untuk anak perempuan dari orang Bali.

Perjalanan Ni Luh berawal ketika ia, duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Ketertarikannya dengan lawan jenis sudah mulai terlihat ketika ia masih berumur 16 tahun. Pacaran, sudah mulai masuk kedalam kamus kehidupannya. Sama seperti anak baru gede (ABG) lainya.

Gaya pacaran Ni Luh, berawal dari hanya pegangan tangan, cium pipi kanan kiri, sampai akhirnya perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istripun ia jalani. Memang pada saat itu, Ni Luh sedang menjalin kasih dengan seorang pemuda bernama Bagus.
Kurang lebih selama dua tahun Ni Luh memadu kasih dengan Bagus. Bahkan Bagus sudah kerap kali bertandang kerumah Ni Luh. Cinta, ya pada saat itu, cinta telah mengalahkan segalanya. Apapun yang dilakukan Ni luh termasuk melakukan hubungan seperti layaknya suami istri dengan Bagus.

Semua karena Cinta. Cinta, cinta dan cinta. Pokoknya cinta. Bahkan memiliki pacar seperti Bagus yang menguunakan Narkoba dianggapnya suatu hal yang keren. Dan ia bisa bangga dihadapan teman-temannya, tatkala ia bersanding dengan Bagus.
Sampai suatu ketika, hal yang tak pernah diinginkannya pun terjadi. Ni Luh hamil. Nikah adalah jalan yang ia tempuh, aborsi tak menjadi pilihannya, karena ia tak mau berdosa dengan membunuh bayi yang ia kandung

Meskipun usianya baru beranjak delapan belas tahun. Ni Luh dan Baguspun melangsungkan pernikahan sederhana. Sekolah Ni Luh terpaksa putus, ia keluar dari sekolah, karena perutnya semakin membesar.

Pasangan muda Ni Luh dan Bagus dikaruniai seorang anak perempuan, berselang empat bulan setelah pernikahan mereka. Ayu, nama anak dari pasangan muda ini. Diusianya yang ke delapan belas, Ni Luh mampu melahirkan secara normal. Meskipun ia harus berjuang untuk melawan rasa sakit pada perutnya ketika si bayi hendak keluar dari rahimnya.

Hari demi hari mereka jalani. Persoalan demi persolan mereka alami. Mulai dari kebiasaan Bagus yang belum berhenti menggunakan narkoba. Labil. Mereka belum bisa bersikap dewasa. Bahkan untuk menghidupi diri mereka dan membesarkan Ayu, Ni Luh dan Bagus masih meminta dari orangtua mereka.

Hingga akhirnya, Bagus jatuh sakit. Gejala thypus menutur pemeriksaan dokter. Tetapi penyakit yang diidap Bagus tak kunjung sembuh. Banyak dokter yang telah ia kunjungi. Tak ada hasil. Bahkan semakin hari kondisi bagus kian melemah.
Bagus tak kuat menahan sakit yang ia alami. Ia meminta untuk opname di rumah sakit. Seminggu berjalan, kondidi Bagus masih sama. Tak ada perubahan.

Dokter di rumah sakit pun mulai bertanya-tanya kepada Ni Luh. Apakh bagus pernah melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial ( PSK ) atau pernah menggunakan narkoba. Dengan tegas Ni Luh menanggapi petanyaan demi pertanyaan yang dokter rumah sakit tersebut tanyakan. Dokter mencurigai Bagus mengidap HIV/AIDS. Virus yang menyerang system kekebalan rubuh manusia.

Tes HIV pun dilaksanakan. Seorang petugas mengambil beberapa mili liter darah Bagus melalui urat nadinya, darah pun mengalir masuk melalui jarum suntik. Ni Luh pasrah, ia mengikui saran dokter untuk melakuan tes HIV tersebut.

Baguspun mulai bosan. Kondisinya yang tak kunjung membaik membuat dia tak betah di rumah sakit. Bagus ingin menjalani rawat jalan. Bagus ingin pulang. Ni Luh pun mengabulkan permintaan bagus. Ni Luh sendiri sudah lelah menemani bagus di rumah sakit. Kerinduan Ni Luh dengan buah hatinya Ayu pun kian tak bisa terbendung. Karena selama Ni Luh menemani Bagus, Ayu dititipkan kepada kedua orangtuannya.

Tiba saatnya, Ni Luh untuk mengambil hasil tes yang dilakukan Bagus di rumah sakit. Tapi hasilnya nihil. Petugas lab tidak mengijinkan Ni Luh untuk mengambil hasil tes tersebut. Petugas tersebut menganjurkan hasil tes tersebut diambil oleh orangtua atau saudara yang lain. Ni Luh bingung, tak mengerti kenapa ia tidak boleh mengambil hasil tes suaminya sendiri. Tapi Ni Luh percaya apa yang dikatakan petugas lab kepadanya.

Ni Luh pun bertambah bingung, hasil tes Bagus Positif. HIV positif. Kondisi Bagus, kian melemah. Berat badannyapun tak lebih dari 35 kilogram. Nafas bagus mulai terhenti. Bagus meninggal. Meninggalkan Ni Luh dan Ayu yang masih berusia 2,5 tahun.
Kesedihan terpancar dari raut muka Ni Luh. Air matanya tak terbendung. Sampai-sampai air mata

Ni luh mengering dan ia tak bisa menangis lagi. Ni Luh menangisi kepergian Bagus, menangisi bagaiman kelak ia membesarkan Ayu seorang diri. Menangisi kenyataan bahwa, pasti ia juga terinfeksi virus yang telah lebih dulu membunuh sumai tercintanya.

Kesedihan terus menerus mengikuti langkah gontai Ni Luh. Sampai suatu saat di bulan Februari ia memutuskan untuk mengikuti tes HIV. Hasilnya positif. Menagis, merenungi nasib, hanya itu yang ia lakukan.hanya kematian yang ada di dalam pikirannya. Bahkan kematian yang ia takuti selalu mengusik isi kepala Ni Luh.

Ni Luh tersadar. Kenapa ia harus menyesali nasib seperti ini. Toh, ia sendiri yang menjalani kehidupannya. Memilih menikah dengan Bagus.

Ni Luh mulai bangkit. Ni luh mulai membuka kembali lembar kehidupannya. Memulai hidup dengan jiwa yang penih semangat dan optimisme. Hanya satu jiwa dan semangat yang ia miliki. Ayu. Ayu adalah pemompa semangatnya. Mau tidak mau, Ni Luh harus membesarkan buah cintanya dengan Bagus.

Maka dari sanalah Ni Luh kembali menjadi kupu-kupu merah muda. Ni Luh menganggap dirinya sebagi seekor kupu-kupu merah muda sebagi metamorfosa kehidupannya. Menjadi kupu-kupu yang cantik yang dapat dilihat dan dinikmati keindahannya oleh semua orang meskipun kupu-kupu tak memiliki umur yang panjang, karena ia sadar suaru saat virus dalam tubuhnya, akan melahap habis sel kekebalan tubuhnya..

Ni Luh memulai menjadi seorang relawan di lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait penanggulangan HIV dan AIDS. Ni Luh bertekad untuk membagikan pengalamnanya sebagai orang yang merasakan bagaimana hidup dengan virus yang hingga kini belum ditemukan obat untuk menghilangkan virus tersebut.

Rupiah demi rupiahpun Ni Luh kumpulkan untuk mebiayai Ayu. Semakin Ayu tumbuh besar, semakin banyak rupiah yang harus ia kumpulkan. Baiya hidup sekarang memang menguras habis tenaga dan pikiran Ni Luh.

Ni Luh sadar, menikah diusia muda memiliki banyak tantangan. Tak adanya kesiapan untuk menjalani hidup berumah tangga. Tak siap akan segala informasi. Bahkan karena tak cukup informasi yang ia miliki, menjerumuskan Ni Luh menjadi perempuan dengan HIV positif. Dari sini, Ni

Luh mulai sering memberikan kesaksian. Membagikan pengalaman hidupnya sampai akhirnya ia menjadi perempuan dengan HIV positif.

Ritual kesaksian diberbagi tempatpun Ni Luh lakukan. Sampai sekarang ini Ni Luh belum pernah mengalami diskriminasi dari orang-orang yang telah mengetahui statusnya. Bahkan banyak dukungan yang ia dapatkan. Diskriminasi yang ia alami, hanya pada saat penguburan Bagus. Dimana pada saat itu, jenazah Bagus diangkat kembali untuk dikremasi. Karena, masyrakat disekitar kuburan Bagus takut virus didalam jenazah Bagus, iktu menginfeksi mereka.

Keluarga Ni Luh sendiri sangat mendukung Ni luh. Pernah suatu hari, Ni Luh mengajak keluarganya untuk mengikuti sebuah acara amal yang hasilnya di sumbangan untuk anak-anak oarng dengan HIV/AIDS (Odha). Kurang lebih 700 orang mendegarkan kesaksian Ni Luh. Termasuk kedua orangtuanya. Bahkan sang ayah begitu bangga melihat Ni Luh berdiri di depan ratusan orang.

Perjalanan hidup Ni Luh, tak berhenti hanya sebagi seorang relawan. Keinginan belajarnya kian tumbuh dengan baik. Ni luh banyak mengikuti pelatihan-pelatihan yang masih berkaitan dengan dunia yang kini ia geluti. Bahkan ia sempat mengikuti pelatihan tentang jurnalisme.

Sampai akhirnya Ni Luh mencoba melamar pekerjaan di salah satu media komunitas untuk memberikan informasi terkait HIV/AIDS dan narkoba. Ni Luhpun berhasil. Samapai saat ini Ni Luh masih menggeluti dunia jurnalisme. Ni Luh bahkan sempat mendapat penghargaan dari komisi penanggulangan AIDS sebagai Orang Dengan HIV AIDS (Odha) berdaya didaerah tempat tinggalnya di pulau dewata Bali, tahun 2006 lalu.

Putri semata wayang Ni Luh ,Ayu, kini telah berusia 6,5 tahun. Ayu telah duduk di bangku sekolah dasar. Ayu sadar, bahwa ia telah tak mempunyai seorang ayah. Bahkan ayupun tau kalau almarhum ayahnya meninggal karena HIV/AIDS.

Pernah suatu ketika, Ni Luh mengajak Ayu untuk ikut suatu kegiatan penyuluhan tentang HIV/AIDS untuk anak-anak. Ni Luh kaget, setelah mendengan celotehan Ayu. “Mati”, suara yang keluar dari bibir mungil buah hati Ni luh, tatkala narasumber menanyakan kepada peserta, “apa hal pertama kali yang muncul ketika mendengar kata HIV?”. Spontan kesedihan menyelimuti Ni Luh. Ni Luh menerawang, memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Ayu.

Mungkin trauma, akan kematian ayahnya membuat Ayu menjadi seperti itu. Dan juga Ayu sendiri tahu, kalau Ni Luh juga mengidap virus yang sama seperti ayahnya.
Batin Ni Luh bergejolak. Perang telah terjadi dalam pikirannya. Memikirkan nasib Ayu, ketika nantinya ia harus meninggalkan Ayu sendirian di bumi ini. Meskipun awalnya Ni Luh telah bersyukur, Ayu terbebas dri virus yang telah merenggut Bagus dari Ni Luh dan Ayu.

Tapi Ni Luh tak menyerah dengan keadaan. Ni Luh selalu memompa semangat hidupnya, agar ia bias bertahan lebih lama mendampingi Ayu.

Dalam keseharian Ni Luh, ia berfikir hidup dan mati ada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Kapanpun Tuhan menginginkan kematiannya, ia pasti akan mati. Tetapi Ni Luh terus berusaha dan berdoa.
Di usia Ni Luh ke 24, berarti telah tiga tahun ia menyandang gelar janda dan HIV positif. Kadang kala Ni Luh risih dengan status janda yang ia sandang, tetapi mau apalagi, Ni Luh pasrah. Iapun tak pernah bercita-cita mempunyai dua status tersebut.

Pentingnya bekal informasi untuk remaja, terkait HIV/AIDS dan Narkoba sebelum remaja mengambil langkah salah seperti yang Ni Luh telah alami. Menikah diusia muda, tanpa bekal informasi, tanpa persiapan yang cukup. Bukan bahagia yang akan di dapat, malah bahkan bisa jadi mengikuti jejak

Ni Luh.. semua orang tak akan mau nasibnya sama dengan apa yang telah dialami Ni Luh.
Kasus Aborsi, Kehamilan Tak diinginkan (KTD), menikah diusia dini bahkan kasus HIV/AIDS semakin banyak dialami oleh remaja. Tetapi siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?

Saat ini di dunia ada sekitar 10 juta remaja hidup dengan HIV/AIDS. Hampir sepertiga dari yang telah terinfeksi berusia 15-24 tahun. Di Bali sendiri hingga Juni 2007 tercatat kasus komulatif HIV/AIDS sebanyak 1508 orang. Kelompok umur 20-29 tahun masih menduduki posisi pertama dengan 788 kasus (55 persen). Menyusul 30-39 tahun dan 15-19 tahun.

Memang penularan HIV/AIDS tak semudah penularan virus lain seperti Tubber collosis ( TBC ) yang bisa terpapar melalui udara. Tetapi ada baiknya pendidikan seks diusia dini, setidaknya dapat menjadikan remaja sebuah pertimbangan untuk para remaja lebih dewasa menyikapi dirinya.
Rumus Abstinen, Befaithfull, Condon, Don`t use drugs, edukasi (ABCDE) bisa menjadi salah satu rumus handalan buat remaja jaman sekarang. Memang konsep ABCDE adalah sebuah pilihan untuk remaja. Tetapi mungkin lebih ditekankan pada konsep pencegahan Abstinen atau tidak melakukan hubungan seks terlibih dahulu.

Dari data survey yang dilakukan oleh Kisara (Kita Sayang remaja) PKBI (Perkumpilan Keluarga Berencana Indonesia) Bali, dari siswa remaja yang telah pernah pacaran (ini sekitar 36% dari responden), ternyata yang telah melakukan aktivitas seksual sebanyak 27% nya. Bahkan disebutkan juga ada yang telah melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan, termasuk juga dengan pekerja seks tanpa menggunakan kondom. Tentunya kelompok remaja sangat berisiko tertular IMS hingga juga HIV. Bahkan kehamilan tidak dinginkan juga menjadi risiko yang lain.

Pengalaman Ni Luh, bisa jadi menjadi salah satu pelajaran untuk kita ambil. Pergaulan remaja yang semakin hari semakin tak terkontrol. Apalagi pendidikan seks masih dianggap tabu di negara tercinta kita ini.

Dukungan remaja dari orangtua, lingkungan sangatlah penting,apalagi orangtua bisa menjadi sahabat untuk remaja yang merupakan anak mereka sendiri, kemungkinan akan sangat membantu remaja mencari identitas mereka ditengah kelabilan para remaja menentukan pilihan mereka .

Pendidikan seks sedari dini, adanya tempat yang nyaman untuk remaja mengakses segala informasi yang berkaitan dengan remaja agar remaja tak terjebak dalam situasi yang berujung kearah negatif seperti narkoba dan seks bebas , kemungkinan besar akan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain.

15 Tanggapan to “Remaja Nikah Muda, berujung HIV”

  1. Tetap semangat Niluh, hidup ini cuma sekali dan bagaimanapun caranya, Hidup ini harus indah. Permasalahan kita beda, tetapi mempunyai esensi yang sama, yaitu menjalani hidup dihadapkan kepada sebuah hambatan. Selamat berjuang.

  2. cerita yg sangat menarik dan menyentuh hati.

    salam kenal..😉

  3. wah, saya ga sanggup komentar nie.salut banget buat ika.

  4. Semuanya berpulang pada kepribadian masing”. Seseorang yang setuju akan adanya free sex lebih” & narkoba merupakan sebagian dari pendapat personal mereka. It’s ok toh yang ngejalanin juga mereka. Dengan dibentengi filter yang kuat dari ruang lingkup keluarga sudah menjadi dasar yang kuat untuk bersosialisasi dilingkungan luar. Cinta hanya sebuah kamuflase. Cinta akan lebih bermakna jika kita tahu dimana kita tempatkan. Bukan hanya untuk sebagai sebuah alasan belaka…heheh nice story to be read. Keep blogging.

  5. wah salut sama perjuangan mbak…..

  6. wow…ulasan yang menarik.
    memang gaya para ABG telah membuat saya geleng-geleng,ya kagum akan prestasinya juga ngeri dengan tinggkah nya.apalagi kecenderungan dianggap lebih dan wah di mata seusianya, meskipun kadang tidakan yang dipamerkan itu keliru. sekarang benteng spiritualitas dan orang tua kadang menjadi cermin yang yang berbalik dimana di depan orang tua bersikap anak imut dan diluarran anak amit.

    energi muda memang mengalir deras,pencarian jati diri dan keingintahuan kadang mendorong kepada hal yang salah.disini peran sekolah,teman, orang tua sangat penting menanamkan pengertian menyingkapi masa muda ini dengan hal-hal yang wajar dan positif bukan untuk siapa tapi utnuk diri mereka sendiri.

    *wah..maap panjang banget komennya:mrgreen: *

  7. artikelnya menarik…
    tp kepanjangan bacanya, mending dibuat bersambung aja kali ya..

    ini cerita asli atau rekayasa ya,soale melahirkan di usia 18,kok disaat usia niluh 24 anaknya baru berumur 2,5 th ya..?

    lamnal…

  8. good writing . . i like it!🙂

  9. pecinta wanita Says:

    Yang sabar ya …
    Tuhan pasti akan memberi kemudahan dan umur yang panjang buat hambanya yang ga bersalah dan mau berusaha ..

  10. salut sudah mau berbagi
    tegar, tegar dan tegar
    salam🙂

  11. Waduh mbok, blog ne keren sekali😦
    Salam buat Ni Luh ya mbok …
    Semoga tetap semangat menjalani hidup ini …
    Menyebarkan pendidikan ke remaja …

    Memang sepertinya pendidikan seks terlalu ditabukan di kita ya, Mbok. Makanya jadinya ya seks pranikah, unsafe seks, etc banyak terjadi di kita.

    Salah satu teman saya pernah bilang, mengintip lewat lubang kunci itu lebih nikmat daripada pintunya dibuka lebar – lebar.

  12. Salut dan terharu dengan cerita nya Ni Luh (Terlepas ini beneran ato rekayasa )

    Pernah melakukan “kesalahan” selama hidup adalah hal yg manusiawi, yang terpenting adalah kemauan orang itu sendiri untuk bangkit dan melanjutkan hidup baru nya dengan benar.

    Hidup adalah pilihan…..Jadi…….????

  13. Hidup adalah perjuangan, jangan pernah menyerah karenanya

    Hidup itu Indah, jadi nikmatilah

    saluttttt buat semuanya🙂

  14. dapet link ini dari komen mas dani iswara di cerpen saya
    smoga kita smua bisa menjadi pejuang tangguh seperti Ni Luh🙂

  15. mengharukan…
    wanita yang kuat…
    Semoga semngatmu tak akan luntur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: